SELAMAT DATANG DI WEB BLOG PKPRI BOJONEGORO JAWA TIMUR INDONESIA

Selasa, 11 Februari 2014

Menangkap Peluang BisniS



Menangkap Peluang BisniS

Dalam mengembangkan suatu usaha atau mau memulai suatu usaha bisnis, ada dasar pemikiran yang perlu dilakukan. Dasar pemikiran tersebut, sudah menjadi pola pemikiran banyak pelaku bisnis yaitu yang kita kenal dengan analisis SWOT.


Analisis SWOT itu gampangnya adalah dengan melakukan pengkajian yang menyangkut hal -hal yaitu:

- Kekuatan (STRENGTHS)
- Kelemahan (WEAKNESSES)
- Peluang (OPPORTUNITIES) dan
- Tantangan (THREATS)

Jadi jika akan memulai atau mau mengembangkan pola bisnis, perlu melakukan analisis atau mengenali tentang :
1. Kekuatan yang ada pada dirinya atau lembaganya . Hal ini menyangkut kekuatan permodalan, sdm, perangkat usaha dan semacamnya. Jadi hal ini menyangkut faktor internal.
2. Kelemahan yang ada pada dirinya atau lembaganya. Dalam hal ini mengenali tentang kelemahan atau kekurangan yang ada di intern, semisal bagaimana tentang kemampuannya, tentang aksesnya, tentang sumber permodalannya, dan lain-lain.
Nah itu tentang kekuatan dan kelemahan adalah terkait dengan kondisi internal.

 Lalu berikutnya yaitu:
3. Peluang; disini terkait dengan faktor atau kondisi external. Semisal perlu dikenali bagaimana adanya peluang akan pasar, konsumen, market. Adanya peluang sumber daya untuk menyikapi kelemahan; adanya peluang pengembangan kedepan .
4. Tantangan; hal ini juga perlu dikenali bagaimana dengan kemungkinannya adanya kompetitor, pesaing, adanya kondisi iklim bisnis , tentang kondisi sumber daya , baik SDM  maupun SDA, dsb.
Faktor tersebut atau unsur-unsur tersebut perlu diinventarisir bisa dalam pemikiran maupun dalam bentuk tabulasi data. lalu dianalisis kemungkinan-kemungkinannya . Banyak mana akan adanya kemampuan dan peluang, dibanding dengan adanya kelemahan dan tantangan yang ada atau yang diestimasikan.

Demikian sedikit sharing ulasan pemikiran.

Jadi dengan analisis SWOT akan mampu mengarahkan kemampuan dan pilihan serta optimisme dalam memulai atau dalam mau mengembangkan usahanya. lalu setelah menentukan pilihan atau decetion making, lakukanlah action/aktivitas dengan mengetrapkan management sesuai fungsi management yang meliputi Planning, Organizing, Actuating dan Controling disingkat POAC.
Salam writer

Senin, 03 Februari 2014

UPAYA MENGURANGI RESIKO TERJADINYA KREDIT MACET



UPAYA MENGURANGI RESIKO TERJADINYA KREDIT MACET

                Dalam hal memberikan pinjaman kepada anggota, koperasi perlu menganalisa kelayakan dan kepantasan anggota untuk menerima pinjaman. Ada hal yang sangat prinsip perlu dianalisa oleh pengelola sebelum mengambil keputusan terkait pemberian pinjaman, yakni analisa 5C.

                Lima (five) C adalah lima prinsip dasar yang dianalisakan kepada seseorang sebelum diputuskan untuk diberikan pinjaman yaitu:  character, capacity, capital, condition of economic, and collateral.
                C Pertama, character. Analisa dalam hal ini lebih melihat kehidupan pribadi sehari hari ditekankan kepada perilaku pergaulan serta etika moral (contoh dalam hal menepati janji,perbuatan tidak tercela dll).     
               C Kedua, capacity. Yaitu kapasitas orang untuk diberikan kredit perlu diteliti baik dari sisi  mengelola dana / usaha maupun kemampuan bayar kewajiban.
                C Ketiga, capital. Analisa  tentang  kekayaan/modal  yang dimiliki oleh calon peminjam keterkaitannya ketersediaan dapat mebayar kewajiban bila terjadi persoalan.
               C Keempat, condition of economic. yaitu analisa situasi ekonomi local dan regional factor kondisi external perlu menjadi pertimbangan, karena ada usaha sangat tergantung dengan kondisi perekonomian.
               C Kelima, collateral. Ini terkait adanya agunan, peminjam dapat memberikan agunan untuk menjamin kredit yang  diterima.

                Rumusan 5C diatas berlaku di dunia perbankan  yang disesuaikan dengan kemajuan zaman. Sebetulnya prinsip tersebut bersifat universal dapat diaplikasikan oleh  semua lembaga yang memberikan pinjaman, adapun kadar penerapan antara satu dengan yang lain berbeda, sesuai dengan kepentingan dan kondisi dunia usaha masing-masing.

PENGETRAPAN RUMUSAN 5C DI KOPERASI
                Gerakan kopersai dapat mencontoh rumusan 5C diperbankan, tentunya disesuaikan dengan kondisi koperasi serta anggota masing-masing. Untuk C pertama sampai ketiga dapat diaplikasikan kepada semua anggota koperasi yang ingin meminjam.
                Sedangkan pada C keempat khusus koperasi fungsional (KP-RI, Kopkar, Primkopad, Primkoppol,dll) lebih pada keberadaan anggota yakni instansi tempat bekerja, rotasi pegawai dan masa pensiun perlu dicermati. Apabila di tempat bekerja tersebut rotasi sering terjadi yang berakibat pindah tempat menerima gaji, perlu analisa lebih dalam bagaimana nanti anggota membayar kewajiban, termasuk setelah pensiun.
                Untuk C kelima yakni collateral, dapat diterapkan sesuai kebijakan koperasi masing-masing. Mungkin ada peraturan koperasi yang tertuang dalam AD/ART bahwa anggota yang mempunyai usaha produktif dapat memperoleh pinjaman lebih besar dari anggota lainnya, dengan syarat menyerahkan collateral (agunan).

PERLU ADANYA S.O.P. UNTUK RENCANA DAN REALISASI PINJAMAN
                Hal lain, yang juga penting dalam hal pengelolaan pemberian pinjaman kepada anggota koperasi adalah perlunya ada aturan khusus yang baku semacam              standar operasi prosedur (SOP)  agar  semua pihak dapat menjalankan tugas dan fungsi masing – masing. Untuk itu koperasi membuat ketentuan yang dapat dilaksanakan dan mengakomodasi semua pihak. Ketentuan yang dibuat dapat disahkan dalam rapat anggota tahunan (RAT), atau juga tidak perlu pengesahan RAT karena alat kerja pengurus yang dinamis dipengaruhi keadaan ekonomi, social, politik dll sehingga akan ketinggalan apabila menunggu pengesahan  RAT (misal penetapan suku bunga dan jangka waktu itu sangat dipengaruhi oleh sumber dana pihak ketiga).
                Ketentuan yang dibuat dalam SOP tersebut sangat bervariasi tergantung kondisi koperasi masing-masing. Hal-hal pokok yang dapat diatur Antara lain:
1)      Status anggota calon peminjam, sudah berapa lama menjadi anggota, bagaimana pembayaran simpanan pokok & wajibnya. Jumlah simpanannya sebagai dasar pemberian besarnya pinjaman.
2)      Maksimal kredit yang dapat diberikan, perhitungannya bisa perbandingan total simpanan, kemampuan gaji, prospek usaha bila anggota punya usaha dll.
3)      Tingkat suku bunga dan jangka waktu, sebelum menetapkan ketentuan perlu kaji betul sumber keuangan koperasi, bila sumber keuangan dana sendiri (simpanan pokok, simpanan wajib, simpanan lain) lebih leluasa membuat aturannya karena dana sendiri tidak ada kewajiban kepada angggota mengembalikan simpanan sepanjang masih tetap menjadi anggota. Apabila sumber dana dominan dari pihak luar (bank, lembaga lain), perlu mengikuti ketentuan dari yang punya dana. Untuk jangka waktu, sebaiknya jangka waktu kredit selaras dengan jangka waktu sumber dana
4)      Agunan atau jaminan untuk koperasi fungsional dimana anggota berpenghasilan tetap (PNS,pegawai BUMN/Swasta ), yang dibutuhkan adalah jaminan ketersedian gaji untuk membayar cicilan, apabila ada satu kebijakan kopersai untuk memberikan pinjaman cukup besar perlu diminta agunan kebendaan. Sebaiknya kopersai non fungsional perlu mempertimbangkan untuk meminta agunan, mengingat anggotanya tidak berpenghasilan tetap.

KETENTUAN PROSEDUR DAN PERSYARATAN ADMINISTRATIF

Hal lain yang perlu diatur,  dalam pengambilan keputusan kredit tidak tergantung kepada seorang pengurus. Sebaiknya mekanisme pemberian kredit juga perlu mengatur semua pihak bertanggungjawab. Sehingga kemajuan koperasi dapat terlibat dan anggota yang mendapat pinjaman dapat  dipantau.
                Prosedur permohonan dan pemberian kredit perlu dibuat agar anggota calon peminjam tahu persis prosesnya, misal:
 a) Permohonan tertulis diketahui oleh pemimpin instansi (formulir disediakan koperasi ).
 b) Permohonan masuk, diagenda di sekeretariat koperasi.
 c) Pengurus mengadakan rapat untuk memutuskan kredit atas permohonan yang masuk dan dibuat   
     risalah rapat , sehingga keputusan ini merupakan keputusan bersama.
d) Dibuatkan persetujuan permohonan pinjaman dan dilakukan Akad Kredit antara pengurus dengan  
     anggota peminjam yang diketahui  oleh suami/istri serta dimintakan foto copy KTP istri/suami.
e) Dana dicairkan apabila semua syarat dipenuhi.

                Dengan instrument analisa 5 C, adanya peraturan SOP, serta aturan mekanisme dan persyaratan administrative, maka  pelayanan pemberian pinjaman kepada anggota dan pengelolaan pinjaman menjadi lancar, tertib, terkontrol dan tidak terjadi kredit macet atau bermasalah.
                Namun perlu juga disadari, bahwa tidak mutlak ada  satu jaminan kepastian dalam pemberian kredit  akan berjalan  lancar, semua yang dapat dilakukan adalah memperkecil resiko kredit macet, pinjaman tak terbayar.


Resume oleh: Luk

Kamis, 30 Januari 2014

ANALISIS LAPORAN KEUANGAN



Analisis laporan keuangan



Laporan keuangan adalah suatu catatan informasi keuangan dari suatu perusahaan, institusi, atau lembaga dalam suatu periode akuntansi yang dapat dijadikan acuan dalam menilai kinerja suatu perusahaan.
Analisis Laporan keuangan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari proses pelaporan keuangan. Laporan keuangan  biasanya meliputi:

1. Neraca (Balance sheet)

Neraca disebut juga posisi keuangan, berarti neraca berguna untuk menggambarkan posisi keuangan suatu perusahaan pada tanggal tertentu (a moment of time). Biasanya tanggal tertentu tersebut jatuh per 31 Desember. 
Posisi keuangan yang digambarkan adalah posisi harta, utang dan modal.

AKTIVA = KEWAJIBAN (UTANG) + MODAL

2. Laporan laba/rugi (Income Statement)

Pada dasarnya laporan laba rugi adalah laporan yang berisi tentang kemampuan atau kinerja perusahaan dalam memperoleh keuntungan pada suatu periode akuntansi. Unsur-unsur yang dijabarkan dalam laporan keuangan diantaranya unsur pendapatan dan beban-beban perusahaan yang nantinya akan menghasilkan laba atau rugi perusahaan.

3. Laporan arus kas (Cashflow)

Laporan arus kas menunjukkan adanya arus kas masuk dan arus kas keluar dari suatu perusahaan. Laporan arus kas disajikan selama periode tertentu dan diklasifikasikan sesuai dengan aktivitas operasi, investasi, dan pendanaan dengan cara yang paling tepat dengan bisnis perusahaan tersebut.

Tujuan analisa laporan keuangan

Laporan keuangan akan semakin berarti bagi pihak yang berkepentingan apabila telah diperbandingkan untuk 2 periode atau lebih dan telah dilakukan analisa lebih lajut untuk memperoleh data yang akan mendukung dalam pengambilan keputusan. 
Analisa laporan keuangan dilakukan dengan melakukan penelaahan, mempelajari hubungan, serta tendensi atau kecenderungan (trend) yang akan membantu dalam menentukan posisi keuangan perusahaan dan hasil operasi perusahaan.

Faktor utama yang memperoleh perhatian khusus dalam analisis adalah

1. Likuiditas

Memperlihatkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajibannya pada saat dilakukan penagihan. Likuid diartikan suatu perusahaan dapat membayarkan kewajibannya dengan tepat waktu. Sedangkan illikuid diartikan suatu perusahaan yang tidak bisa dengan segera membayar kewajibannya ketika dilakukan penagihan.

2. Solvabilitas

Ini menunjukan kemampuan suatu perusahaan dalam memenuhi kewajibannya pada saat perusahaan dilikuidasi, baik dalam jangka pendek atau panjang. Istilah “solvabel” berarti perusahaan mampu memenuhi semua kewajibannya ketika dilikuidasi. Sedangkan “insovabel” berarti jumlah aktiva suatu perusahaan kurang dari atau lebih kecil dari jumlah hutangnya.

3. Rentabilitas atau profitability

Penggunaan aktiva yang diperuntukan untuk menghasilkan laba dalam suatu periode tertentu. Untuk mengetahui rentabilitas dapat dilakukan dengan membandingkan antara laba dengan jumlah aktiva atau modal dalam suatu periode tertentu.

4. Stabilitas usaha

Menunjukkan kestabilan perusahaan dalam menjalankan usahanya, kestabilan ini dapat diukur dengan:

- Kemampuan dalam membayar beban bunga yang timbul karena utang perusahaan dan kemampuan perusahaan dalam melunasi utang tepat waktu.

- Kemampuan dalam membayarkan deviden tanpa adanya hambatan atau krisis keuangan perusahaan.


 Metode dan Teknik Analisa
 
Fungsi dari metode dan teknik analisa adalah untuk mengukur keterikatan atau hubungan akun-akun yang ada pada laporan, hal ini membantu mengetahui perubahan yang terjadi pada masing-masing akun apabila diperbandingkan dengan:

1. Laporan yang diperoleh dari beberapa periode (analisis historis)

2. Laporan keuangan yang telah dibudgetkan (analisa variance)

3. Laporan keuangan pada perusahaan lainnya (analisa rata-rata industri)

Setiap metode dan teknik analisa mempunyai tujuan untuk menyederhanakan data sehingga lebih mudah untuk dipahami.

Beberapa macam metode analisa:

1. Analisa Horisontal (analisa dinamis)

Metode ini menggunakan metode perbandingan laporan keuangan dalam beberapa periode, sehingga perkembangannya akan diketahui.

2. Analisa Vertikal (analisa statis)

Metode ini akan menghasilkan analisa dalam satu periode saja dan tidak mengetahui perkembangannya. Analisa ini akan memperbandingkan antar akun pada laporan keuangan, oleh sebab itu yang akan diketahui hanya keadaan keuangan dan hasil operasi ketika periode itu saja.

Berikut beberapa teknik analisa yang digunakan dalam analisis laporan keuangan:

1. Analisa perbandingan laporan keuangan

Analisa ini akan melakukan perbandingan laporan keuangan dalam dua periode atau lebih dengan cara menunjukkan:

- Data absolut (jumlah-jumlah satuan mata uang)

- Kenaikan dan penurunan pada satuan mata uang

- Kenaikan dan penurunan pada persentase

- Perbandingan yang dinyatakan dalam rasio

- Persentase total

Metode ini akan membantu dalam mengetahui perubahan yang terjadi dan perubahan mana yang perlu dilakukan penelitian lebih lanjut.

2. Trend atau Tendensi

Untuk mengetahui tentang kemajuan perusahaan dan tendensi posisi perusahaan yang dinyatakan dalam bentuk persentase atau trend percentage analysis, apakah posisi tendensi tetap, naik atau turun.

3. Analisa sumber dan penggunaan modal kerja

Digunakan untuk mengetahui sumber-sumber modal kerja, penggunaan dan perubahan modal kerja pada periode tertentu.

4. Laporan persentase per komponen (common size statement)

Berguna untuk mengetahui besarnya persentase investasi di masing-masing aktiva, mengetahui komposisi beban, struktur permodalan yang dikaitkan dengan jumlah penjualannya.

5. Analisa sumber dan penggunaan kas (cash flow statement analysis)

Matode analisa ini membantu mengetahui dari mana sumber-sumber dan uang kas digunakan, serta mengetahui perubahan dari jumlah uang kas pada periode tertentu.

6. Analisa Ratio

Dengan metode analisa ini akan mengetahui hubungan antara akun-akun tertentu pada neraca.

7. Analisa perubahan laba kotor (gross profit analysis)

Untuk mengetahui penyebab terjadinya perubahan laba kotor perusahaan dari satu periode ke periode berikutnya, atau perubahan laba kotor dalam periode tertentu dengan laba yang telah dibudgetkan dalam periode tersebut.

8. Analisa titik impas (break even point)

Berguna untuk menganalisa pencapaian tingkat penjualan supaya perusahaan tidak mengalami kerugian, namun juga tidak mendapatkan keuntungan. Analisa BEP akan mengetahui berbagai tingkat kerugian atau keuntungan dalam berbagai tingkat penjualan.

Bersambung. luk

BERBAGI INFORMASI BLOG SOSBUD EKONOMI POLITIK SASTRA AGAMA, BISA DI KLIK

BERBAGI INFORMASI BLOG SOSBUD EKONOMI POLITIK  SASTRA AGAMA, BISA DI KLIK
menerima sharing tulisan apapun

Pengikut

LIVE TRAFFIC

Share it